Kamis, 03 Januari 2008

aku,dan maafkanlah aku Bu!

Tadi, pagi menghadang ku,,benar-benar berat…
Kupaksakan untuk mendudukkan badan ku yang terasa begitu lemah,,,
Tapi berat,,aku tak begitu kuat untuk bangkit dari perbaringan..
Sinar matahari sayup masuk melewati celah-celah sempit jendela kamarku.
Ogghhh,,perih rasanya,
Aku tak igin bangun
Kepalaku masih teras pusing,
Mungkin hebat benar mabuk ku semalam,
Dan opppsssss…..
Jantugku terasa berhenti berdetak,,oh Tuhan,,,,aku takut,,seluruh jarum jam dirumah ku seperti ikut diam bersama jantug ku,,
Oh..semalam siapa yang tealh mengahantar ku pulang?
Beny? Rio? Daren? Atau Denis dan lain sebagainya..
Oh..pakaian ku??
Aku takut,,aku tak berani..
Perlahan ku buka mata ku mengindahkan sinar matahari yang menyipitkan pelipis mata ku,,
Persetan dengan rasa lelah,,berat kepala ku dan segala macam,,sekarang yang ada dipikiran aku, hanya kekawatiran ku, kekawatiran ku terhadap tubuh ku,,,
mmm..maksud ku, semalam aku mabuk, dan ada yang menghantarku ke kost-an kecil ini, dan lalu apa yang terjadi?
Perlahan,,sambil berbaring, ku putar bola mataku melirik ka arah bawah tubuh ku,,, mulai ku perhatikan bajuku,,,ku buka selimut,,dan..
Oh…terima kasih Tuhan,,,tak ada pakaian ku yang tanggal…semuanya utuh,,
Utuh seperti biasa
Kuhembuskan nafas panjang melepaskan ketakutan ku,

****
Aku, mahasiwi sebuah perguruan tinggi negeri,merantau dari kampung halamanku hanya untuk mengenyam pendidikan yang sudah sejak dahulu ku cita-citakan, ingin jadi wanita carier,,,itu impian terbesarku.
Jauh datang dari kampung halaman, aku membawa harapan besar orang tua ku,,ibu yang hanya tukang jahit,,,sangat mengaharapkan agar aku dapat menyelesaikan pendidikan dan bekerja secepatnya, agar ketiga adikku kelak juga dapat mengenyam pendidikan tinggi seperti ku, aku menjadi harapan ibu, karena ayah sudah tak mungkin lagi untuk bekerja, beliau telah 4 tahun menderita diabetes.
Awal kedatangan ku di Kota ini, aku tak berani untuk mengikuti alur kota besar yang sepertinya keras, biasanya sepulang kuliah aku akan langsung pulang ke kost, mengantongi beberapa buku di pustaka untuk kubaca kapan saja aku ada waktu luang.
Berkat ketekunan ku,,Alhamdulillah semester pertama dan kedua ku IP ku diatas angka 3.
Perlahan, aku mulai membentangkan sayap,,bergaul dengan banyak teman dan dari berbegai kalangan, dan beberapa diantara mereka ada beberapa orang yang menjadi karib ku, mereka gaya, fashion yang melekat dipakaian mereka sangat up to date, seksi dan memukau tiap mata yang memandang. Menyenangkan memang, mereka sering meminjami ku baju, celana, juga sepatu high hills yang belakangan menjadi alas kaki favorite ku,
Ellen,,dia kaya raya, dia yang kerap meminjamkan ku baju-bajunya, rata-rata semua bermerk, aku sangat menyukai semua pinjamannya. Semenjak akhir semester tiga, Ellen kerap mejemput ku ke kost dengan sedan BMW mewahnya,,

Ya ampuuunnn,,mimpi apa kau dapat berteman dengan mereka ,,naik sedan mewah, pakaian bagus(meski bukan milik ku), jajan di café-café kenamaan, dan bahkan diakhir minggu kami sering hang-out keluar. Benar-benar seperti mimpi.
Awalnya sungguh aku begitu canggung, aku tak terbiasa dengan Pub, ritme music disco, kepulan asap rokok, kehidupan malam yang awalnya begitu asing bagi ku.
Namun perlahan aku menikmatinya, terjun bersama teman-teman wanita dan lelaki mengikuti ritme disco, menggoyangkan pinggul sintal kebanggaan ku,,
Huuu….seru, hanya itu yang ada dibenak ku,,menikmati apa yang tak pernah ku nikmati sebelumnya dalam hidup ku, apa lagi dikampung, bertemankan cangkul dan parang aku dipaksa ikut ke ladang bersama ibu dan ayah,,tak pernah aku mengunakan lulur, fasial dan segala macamnya peralatan-peralatan yang sekarang menjadi konsumsi rutin ku setap saat(meski juga hasil pinjaman atau pemberian Ellen).
Di kampung tak ada pub, yang ada hanya panggung tiga kali empat meter, tempat para lelaki-lelaki genit bergoyang dangdud bersama alunan orgen yang memusingkan ku, tapi di sini,,berbeda 180 derajat,,disini tak ada penjual bakso, atau tukang angkat yang bergoyang bersama keringat baunya, disini yang ada hanya muda-mudi yang menikmati kehidupan mudanya, atau juga ada oom-oom dan tante-tante yang menikmati sedikit waktu luangnya ditengah-tengah mengejar bisnis yang mereka keluti. Dan yang pasti di sini tak ada Ibu atau Ayah, yang akan mengawasi ku melakukan apa saja yang ku mau,,aku bebas.

Cihuuuuuuu…Rio, lelaki ku, tepatnya pacar ku, teman satu kampus yang telah menjadi kekasih ku tak kurang dari 8 bulan. Tapi dia benar-benar tau cara memanjakan ku, dia benar-benar tahu bagaimana membuat ku terhanyut bersama buaian mesranya.
Rio tak punyaa mobil mewah, dompet tebal, pakaian serba bermerk dan segala macam tetek benget icon kekayaan. Ke kampus Rio hanya meggunakan motor butut yang kerap keli mogok dan rusak. Tapi Rio berbeda, dia punya lebih dari yang seharusnya ada, seperti yang ku bilang tadi, Rio punya jurus ampuh menghanyutkanku dalam pelukannya.
Tapi seampuh apa jurus Rio membawa ku bermain ke taman asmaranya, seampuh itu juga aku mempertahankan apa yang menjadi prinsip dalam hidup ku, terjun ke dunia gemerlap, pelak tak membuat aku melepaskan kesucian ku, maupun itu untuk Rio tersayang ku, aku muslimah, meski sikap dan perangaiku sangat jauh dari apa yang seharusnya dilakukan seorang muslimah, tapi untuk memberikan kesucian ku begitu saja, aku tak akan pernah bisa.
Lain dari itu, perlahan Rio memanjakanku dengan cara barunya, Rio mulai memperkenalkan ku dengan obat-obatan, aku menolaknya, karena sungguh aku sadar sejauh apapun aku lari dari jalan lurus ku, obat-obatan akan membuat ku masuk ke lobang kemudaratan yang akan menghantarkan petaka bagiku, aku menghindar untuk beberapa waktu dari Rio. Namun cinta menggelapkan pandangan kehidupan ku, cinta membutakan mataku, aku tak pernah punya kekuatan untuk jauh dari Rio, kekasih ku. Dengan kebodohan yang aku sandiri meyadarinya, perlahanan aku mulai bermain-main dengan obat-obatan terlarang, awalnya hanya coba-coaba saja memenuhi keinginan Rio, tapi perlahan aku kecanduan dibuatnya.
Shabu,,aku terjebak dalam dunia shabu yang diperkenalkan Rio. Bersamanya aku menikmati hari-hari berpesta shabu, kadang di kost-an Rio, kadang di gudang, gedang adalah sebutan tempat dimana Rio sering melepaskan candunya bermain Band bersama-teman-temannya.
Aku larut,,,sungguh candu telah menguasai seluruh akal ku.
Tak ada lagi yang bisa mengontrol ku, sering aku tak pulang ke kost-an.

Pertengahan semester enam, kuliah ku telah diambang kehancuran, semuanya kocar-kacir. Dunia gemerlap dan narkotika telah mengusung ku melintasi lain dunia yang membuat ku lupa dengan dunia awal ku, belajar, mengejar cita-cita seperti yang diharapkan ibu. Menjadi tulang punggung keluarga dan membiayai sekolah ketiga adik ku.
Aku hancur, hingga suatu saat,, aku dilarikan ke rumah sakit,,karena anfal. Overdosis tepatnya,,aku tak ingat kejadiannya karena yang ku ingat ketika itu aku hanya terbang, terbang melayang bersama Rio ku, terbang melayang bersama dunia ku.
Aku overdosis,,,di rawat tentunya membutuhkan arsiparsip yang harus dipenuhi oleh keluarga ku, disinilah awal ibu mengetahui segala kehancuran kehidupan ku, akademikku dan bahkan agama ku. Aku haru biru bersama ketersesatan ku.
Ibu tak marah, yang ada hanya guratan kekecewaan yang mendalam,,sungguh kekecewaan yang paling dalam yang pernah ku lihat dan kurasakan dalam hidup ku, maafkan aku bu! Pertama kali aku menangis menyesal atas apa yang telah kulakukan, aku mulai sadar.
Menyesal, ya,,,itu kata-kata yang terucap ketika ibu berurai air mata menunggui ku di rumah sakit.
Namun sekarang sesal hanya tinggal sesal,,,sekarang aku kembali mengenyam dunia malam ku, sesal ku hanya sesaat, ku hancurkan hati ibu untuk kedua kalinya, aku menyadarinya, namun tak ada yang lebih berkuasa selain setan dan hawa nafsu ku, aku kembali ke dunia gemerlap ku, aku kembali ke obat-obatan ku, dan aku kembali pada Rio ku.
******

Oh…kulanjutkan cerita ku yang sebelumnya,,bukan feed back lagi,
Tak henti-hentinya kau mengucapkan sukur pada Tuhan (aku lupa kapan terakir kali aku mengingat Tuhan) karena helai demi helai pakaian ku masih terpasang seperti ketika aku keluar rumah kemaren sore.
Oh…pagi yang berat,,,perlahan ku bukai kerai jendela kamar ku, matahari masuk memenuhi seluruh bagain kamar tidur ku, pagi yang cerah!(ungkap ku dalam hati)

Ku langkahkan kaki ke kamar mandi, membasuh semua kotoran lahir ku yang melekat, dan tentunya kekotoran bathin ku tak akan pernah luntur begitu saja,, karena sudah menebal dan sepertinya tak bisa ku kikis lagi, kunikmati saja(fikir ku)

Jam 10 siang ini aku bermaksud singgah dulu ke Rumah sakit, karena sesuai yang di janjikan perawat, bahwa hasil tes darah ku akan keluar hari ini, beberapa bulan belakangan, kesehatan ku menurun drastis, badanku acap lelah dan mudah sekali dropt, mungkin jua ini pengaruh obat-obatan.

****

Hasil tes darah merangkap tes kesehatan ku telah ada ditangan ku, dan dokter sepertinya tak mau bicara banyak, ia hanya menyuruh ku membuka dan membaca sendiri. Tapi tak masalah, toh hanya membuka dan membacanya. Paling juga pengaruh obat-obatan!(pikir ku)

*****
Dulu ketika melihat dan mendengar di TV tentang HIV?AIDS aku hanya merinding takut dan jijik saja, kenapa bisa orang terkena HIV? Penyakit yang menakutkan dan tentunya mematikan.

Namun sekarang kertas yang kupegang dikedua tangan ku, terang-terangkan mencantumkan kata-kata yang tak pernah nyana melintas dalam benak ku: positif HIV AIDS.

Aku hanya duduk, tubuh ku tak bergerak,, yang bergerak hanya bongkahan-bongkahan bening yang keluar dari kedua mata ku, basah mengguyur menggenangi kertas hasil tes yang ku pegang, dan yang bergerak hanya hati ku, menghujam segala kebodohan tentang diri ku, menghujam hati ku sendiri, aku menyesal….aku menyesal..
Oh…Tuahan,,,,,aku menyesal,
Dan Ibu,,,aku tak ingin mati,,,aku tak ingin mati, aku ingin bekerja dan membiayai seluruh kehidupan kita Bu, membiaya adik-adik ku sekolah, membuatkan ibu rumah, dan menghantarkan ibu ke tanah suci, baru sekarang aku teringat akan janji-janji yang keluar dari mulut ku sendiri, aku menyesal Bu,
Namun kini tak ada gunanya lagi,
Yang akan kulalui hanyalah tanah tanpa ujung,,tanpa bukit, semuanya datar, tak ada orang, tak ada apa-apa hanya ada tanah, kerikil –kerikil tajam, dan langit mendung tak berujung.
Dan tak ada Rio atau Ellen.
Maafkan aku Bu!

The End

Tidak ada komentar: