OPINI
Ruang ku Sayang, Ruang ku Malang
Dunia sepertinya telah terbiasa dengan fenomena rampas-merampas, dunia telah sesak dengan tukang rampas. Rampas merampas segala hal dan dimana saja, dan tentunya yang biasa menajdi barang rampasan adalah sebuah ”hak”.
Nah, begitupun yang terjadi dengan kampus hijau Unand yang belakangna ini. Mahasiswa yang sudah biasa beraktifitas di gedung PKM telah merasa hak-nya dirampas secara ganas dan bringas oleh pihak rektorat yang ”maha bijaksana”.Beberapa ruangan yang biasa diguanakan sebagai tempat berkegiatan oleh beberapa UKM kini telah disulap menjadi ruangan-ruangan elit yang tak lagi berfungsi aktif bagi mahasiwa. Salah satunya yaitu Aula atau yang akrab disebut sebagai ruang kaca yang biasa digunakan oleh UKM Pandekar dan UKM kesenian untuk latihan serta merta telah beralih fungsi. Para pandekar-pandekar Unand kini terpaksa bersesak-sesak ditengah tengah PKM yang kita sendiri sudah sama-sama tau berapa ukurannya. Benar-benar tidak Efektif. Selain itu studio mahasiwa yang biasa digunakan oleh teater rumah teduh UKS sebagai temapt latihan rutin sudah sejak lama diambil oleh pihak rektorat dengan alasan renovasi, namun setelah di konfirmasi ulang, pihak rektorat sebagai yang bertanggung jawab didalamnya hanya memberikan alasan ”kunci masih ada di kontraktor”, namun toh buktinya belakangan beberapa kursi dan meja ditata rapi didalamnya, persis layaknya sebuah ruang seminar berkelas, dan air conditioner pun dipasang sebagai salah satu ciri yang mudah ditebak bahwa ruangan itu tak akan berpulang lagi ke mahasiswa.
Nah, kalau begini keadaannya esensi dasar gedung PKM Unand ini perlu dipertanyakan lagi, patutkah gedung yang pada dasarnya diperuntukkan bagi seluruh aktifitas mahasiwa ini diberinama PKM (pusat Kegiatan Mahasiwa), jika melihat keadaanya sekarang gedung ini tidak lagi mengayomi kepentingan mahasiwa secara efektif, ruang gerak mahasiwa telah dipersempit secara nyata. Yang paling miris, mahasiswa sebagai stakeholders tak pernah diajak berumbuk untuk memutuskan kebijakan yang ”super bijak” ini. Dan mungkin saja para decision maker tersebut telah menyiasatinya dengan teramat sangat sempurna, sehingga tak banyak mahasiswa yang berani bersuara atas hak mereka yang telah di rampas
Banyak sekali kita mendengar guyonan-guyonan yang menggelikan telinga, seperti adanya UKM BNI, UKM Bank Nagari, UKM Madani dan segala macamnya. Jika kita melihat secara kasar, maka benar adanya bahwa keberadaan nama-nama yang disebut
tadi diatas memang memilki keterkaitan dengan kepentingan mahasiswa, namun jika demikian asumsi yang dugunakan, maka sebaiknya pindahkan saja segala macam yang memiliki embel-embel dengan kepentingan mahasiswa ke gedung PKM ini, dan akan lebih baik kita tiadakan saja UKM-UKM yang telah ada. Mungkin, bapak-bapak kita telah punya planning menukar UKM-UKM yang ada ini dengan UKM-UKM lain yang lebih berbobot, UKM Danamon mungkin, atau UKM Toyota, UKM Mitsubishi, UKM Suzuki, dan UKM lainnya yang lebih memberikan nilai profit yang nyata bagi Universitas, atau sudah ada planning yang lebih ”fantastis” lagi untuk menukar seluruh ruangan di sedung PKM ini dengan beberap ruang seminar lagi. Ya,,mungkin kedepan Unand disetiap harinya akan menggelar seminar-seminar atau pertemuan-pertemuan yang hebat untuk masa depan Unand, bukan masa depan mahasiwanya. . Dan tulisan ini hanya selentingan suara hati yang patut sudah tuan-tuan merenunginya. Bukanlah sebuah kebangkangan yang mungkin saja terlintas dipikiran tuan./ Eko P2
Kamis, 03 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar